anak mandiri

Baruterus.com – Semua anak memiliki sisi manja. Bahkan bisa dibilang nyaris semua anak bergantung pada orang dewasa seolah – olah peran anak kecil sudah ditentukan. Ketika mengantar anak anda ke sekolah untuk pertama kali, tentu wajar ada rasa takut dan menangis, di pikiran anda mungkin hanya terbesit belum saatnya anak mandiri. Saat kedua sampai kesekian kali berjalan bersama anak memasuki gerbang sekolah, ternyata kebiasaan menangis dan merengek minta ditemani tidak kunjung berhenti. Anda mungkin ingin berpikir ulang, jangan – jangan cara mendidik anak mandiri belum anda lakukan? Tarik nafas dalam – dalam, tidak ada kata terlambat untuk memulai langkah mendidik anak mandiri!

Langkah pertama, berkacalah dari diri anda sendiri. Seringkali bukan anak yang tidak ingin lepas dari orang tua, melainkan orang tua yang tidak mau pergi dari anak. Rasa cemas, khawatir yang merupakan salah satu resiko dari kasih sayang memang menyulitkan dan terasa tidak nyaman untuk meninggalkan anak sendirian. Berita dan rumor mengenai pedofilia, perdagangan manusia, sampai penculikan tidak membantu anda menurunkan kadar cemas berlebihan. Bisa jadi, anak anda memiliki potensi untuk mandiri, tapi anda yang mencegah anak melebarkan sayap independensinya.

Tindakan orang tua yang membuat anak sulit mandiri diataranya adalah kerap mengkomentari disertai ancaman tidak perlu. Sebagai contoh, “adek kamu harus sama mama terus kalau tidak nanti mama panggil polisi karena adek tidak nurut”. Bagi orang dewasa, jelas terdengar normal meski sedikit konyol, tapi bagi anak kecil, ketakutan yang timbul dari ancaman tersebut cukup besar. Bahasa tubuh serta keputusan yang anda ambil bisa menjadi fondasi dasar presepsi anak. Semisal saja anak anda menangis, merengek minta dibelikan boneka beruang kesukaannya, daripada menolak dengan tegas, anda malah ragu – ragu dan berujung membelikan boneka beruang tersebut. Dari kejadian tersebut, anak jadi merasa bahwa merengek adalah jalan untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Mulai sekarang berhati – hatilah dalam berkata maupun bertindak.

Sejatinya tidak ada anak yang tidak bisa dididik menjadi mandiri. Masalahnya, beberapa anak justru menikmati fase tidak mandiri yang dia alami karena merasa normal. Anda bisa saja bukan penyebab anak merasa terus bergantung pada orang lain adalah hal yang wajar. Bisa saja orang di sekitar anak justru menjadi biang kerok yang membuat anak menjadi yakin kalau terus bermanja – manja pada orang tua setiap waktu bukan hal aneh. Perkataan teman sesamanya atau melihat bagaimana perlakuan orang tua kepadanya saja sudah bisa membentuk presepsi di pikiran anak bagaimana anda harus memperlakukan dirinya. Perhatikan apakah ada perilaku atau reaksi janggal yang diberikan anak ketika anda menolak permintaan anak. Bila biasanya anak tidak mengamuk berlebihan ketika ditolak permintaannya namun tiba – tiba bersikap demikian, anda patut curiga dari mana pengaruh anak berasal. Segera jauhkan anak dari tipe orang yang berkemungkinan memberi pengaruh buruk. Anda harus bergabung dengan para bunda yang sudah memiliki anak untuk lepas dari orang tua di usia dini.

Sesulit apapun anda mendidik anak agar menjadi mandiri, bukan berarti si kecil memang sengaja bersikap demikian atau bahkan menikmati saat – saat dirinya bisa dimanja. Bila tidak ada pengaruh dari luar maupun dari diri anda, memang pada dasarnya keberanian anak anda untuk menjadi independen datang lebih terlambat dibanding anak – anak yang lain. Sebenarnya dengan melihat anak – anak lain mampu lepas dari orang tua, anak merasa iri karena dirinya tidak sama dengan anak lain. Dukungan anda adalah salah satu faktor paling penting guna mendidik anak menjadi mandiri. Tentu, bukan berarti anda lantas tidak menghiraukan anak untuk bisa ditinggal sendiri, terlebih jika pada dasarnya anak memang masih berusia cukup muda. Psikologis anak bisa terganggu hanya karena hal – hal kecil, rasa sakit hati bisa muncul dengan mudah dari diri anak. Alih – alih memakai cara kasar, cobalah duduk bersama si kecil dan tanyakan apa yang dirasakan anak anda. Komunikasi dengan ibu atau ayah sangat membantu untuk menemukan akar permasalahan yang menghalangi anak untuk tumbuh mandiri. Waktu sejam dua jam tidak akan masalah selama anda akhirnya paham jalan pikiran anak.

Mengetahui permasalahan atau penyebab anak tetap takut untuk ditinggal sendirian tidak akan cukup. Sebagai orang tua mulailah berpikir bagaimana solusi untuk mengatasi perasaan tidak nyaman yang dirasakan si kecil. Jika anak anda merasa gugup untuk bertemu orang lain adalah alasan kenapa genggaman anak tidak mau lepas dari ibunda, ajarkan anak teknik pernafasan lalu bagaimana memulai percakapan. Terdengar aneh memang, karena ilmu bersosialisasi seolah adalah hal yang mudah dan sudah ada dalam diri manusia sejak dahulu kala. Percaya atau tidak, ada beberapa orang yang terlahir dengan rasa takut untuk bertemu orang lain. Berlatih di rumah hanya anak tahu bagaimana bersikap dan tetap tenang saat bersama anak yang baru dikenal bisa menjadi ide yang bagus. Luangkan saja sesi setiap harinya guna melatih terus anak. Setelah latihan dan anda menyadari anak anda sudah mau ditinggal sendiri, tahap berikutnya tentu saja mengajarkan anak berbagai macam ilmu yang bisa membuat anak melakukan semuanya sendiri. Hal kecil seperti makan sendiri atau ke kamar mandi sendiri saja sudah bisa meningkatkan tingkat anak mandiri.