kehamilan jarak dekat
Source: National Geographic

Baruterus.com – Apakah Ayah dan Ibu berencana memiliki momongan lagi dalam waktu dekat? Sudahkah memperhitungkan rentang waktu dari kehamilan sebelumnya? Berapa sebaiknya jarak antar kehamilan yang aman bagi Ibu dan janin?

Euforia menjadi orang tua baru pasca  kelahiran anak pertama, tentu sangat membahagiakan. Hingga tak sedikit Ayah dan Ibu ingin segera mendapatkan momongan kembali. Berbagai alasan sering dikemukakan, diantaranya ingin melengkapi anak pertama dengan adiknya, membesarkan anak sekaligus mumpung usia ibu masih muda, dan banyak alasan lainnya. Semua alasan ini menjadi wajar dan benar adanya, namun sebaiknya tetap memperhitungkan matang-matang dan menimbang dari berbagai sisi.

Penelitian World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa jarak antar kehamilan yang kurang dari 12 bulan dapat meningkatkan resiko kematian pada Ibu. Plasenta dari kelahiran sebelumnya belum mengelupas seluruhnya. Terutama bila proses kelahiran pertama melalui operasi caecar, plasenta masih melekat pada dinding rahim bagian bawah dan menutupi leher rahim Ibu. Hal ini dapat menyebabkan radang saluran genital dan menimbulkan pendarahan. Dengan kata lain, rahim Ibu belum siap memampung dan menjadi tempat tumbuh kembang janin yang baru.

Ketidaksiapan rahim Ibu berdampak pada kurang maksimalnya pembentukan cadangan makanan bagi janin dan Ibu sendiri. Akibatnya bayi akan terlahir dengan berat badan rendah, rentan kelainan plasenta, kurang gizi, kekurangan asam folat, resiko bayi menderita autisme, dan resiko terburuk yaitu keguguran. Ibu sendiri memerlukan waktu lebih lama untuk memulihkan kembali kondisi fisiknya.

Selain itu sisi non medis juga harus mendapat perhatian. Biaya selama kehamilan, persiapan persalinan, dan kebutuhan lainnya yang akan timbul di kemudian hari. Perkembangan psikologis anak pertama pun masih sangat membutuhkan perhatian, waktu dan tenaga penuh dari Ibu. Kehamilan jarak dekat juga menurunkan kesempatan Ibu memberikan ASI eksklusif pada anak pertama.

Jadi, Ayah dan Ibu, apakah kehamilan jarak dekat buruk?

Setiap masalah yang ada tentu punya sisi negatif dan positif. Untuk kasus kehamilan jarak dekat bisa kita simak ulasan di sini.

Jarak kehamilan terbaik yang disarankan dokter kandungan adalah antara 18 sampai 48 bulan sejak persalinan sebelumnya. Bila kurang dari waktu tersebut, Ayah dan Ibu dapat berkonsultasi langsung dengan dokter. Jarak kehamilan ini tentunya untuk menghindari resiko yang telah disebutkan di atas. Secara fisik, Ibu sudah siap karena telah mendapatkan waktu yang cukup untuk memulihkan kondisi rahim. Asupan nutrisi untuk janin akan berjalan dengan baik. Faktor psikologis anak pertama juga sudah lebih siap menerima kehadiran adik. Sedangkan Ayah pun mendapat waktu yang cukup untuk menyiapkan keuangan keluarga.

Bila kehamilan jarak dekat menjadi pilihan Ayah dan Ibu, menjaga kondisi fisik dan psikologis Ibu harus menjadi prioritas utama. Ibu harus mendapatkan nutrisi yang terbaik guna menjaga kondisi selama masa kehamilan kedua. Peran seorang Ayah sangat dibutuhkan pada masa ini dengan membantu merawat anak pertama, jangan sampai kurang diperhatikan karena Ibu sedang mengandung. Dukungan Ayah akan mengurangi beban tenaga dan Ibu pun memiliki waktu lebih untuk beristirahat.

Nah sebagai orang tua baru, sebaiknya Ayah dan Ibu merencanakan dengan matang kehamilan kedua ini. Oleh karena itu Badan Koordinasi Keluarga Berencana (BKKBN) sangat menganjurkan untuk melakukan program keluarga berencana. Program ini tidak hanya bertujuan menekan pertumbuhan masyarakat Indonesia, tetapi juga sangat berpengaruh pada kesehatan Ibu, anak, dan tentunya membuat keluarga menjadi semakin harmonis dan berkualitas.