Penyakit hamil kadang muncul begitu saja tanpa disadari. Salah satunya adalah penyakit sistitis yang merupakan infeksi saluran kemih. Bagaimana cara menangani masalah tersebut?

Keadaan ibu memang perlu dijaga lebih baik. Normalnya, kondisinya lebih rentan terhadap penyakit. Pasalnya, perubahan keadaan dan hormon di dalam tubuh ibu selalu terjadi. Perubahan ini kadang melemahkan kondisi tubuh ibu. Akhirnya, munculah aneka penyakit. Bisa penyakit ringan yang bisa sembuh lebih cepat, bisa juga parah sehingga membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Diantara jenis masalah kesehatan yang akan dialami oleh ibu adalah infeksi saluran kemih. Ini biasanya disebut dengan cystitis. Biasanya tidak bisa diprediksi sebelum terjadi, dan biasanya meluas dengan tanda urin lebih keruh dan berbau tidak enak.

Langkah Mengobati Sistitis

Penyakit kehamilan ini disebabkan oleh bakteri. Bakteri bisa muncul begitu saja di tempat-tempat yang lembab. Di tempat tersebutlah bakteri bisa berkembang dengan pesat. Area kewanitaan menjadi tempat paling perlu dijaga ibu. Penjagaan dilakukan dengan selalu rajin membersihkannya. Kemudian, pastikan untuk membuatnya tetap kering.

Ketika area kewanitaan tidak lembab, tentu bakteri tidak akan bisa bertahan hidup di tempat tersebut. Alhasil, masalah seperti sistitis ini bisa diminimalisir. Mengenai langkah penanganannya, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan membiasakan diri bebersih area kewanitaan. Pastikan untuk menjaganya agar tidak terlalu lembab.

Kemudian langkah berikutnya adalah biasakan untuk mengosongkan kandung kemih dari urin. Urin yang tersisa di dalam kandung kemih akan membuat bakteri semakin berkembang. Akhirnya, timbullah inflamasi pada saluran tersebut.

Bila ibu sering mengosongkannya, ibu berarti bisa menangani masalah sistitis tersebut. Pasalnya, gejala awalnya ada pada seringya ibu ingin buang air kecil, dan rasa perih bila sudah dilakukan. Sayangnya, ibu tidak bisa mengeluarkan urin secara keseluruhan.

Sedangkan tindakan terakhir untuk menangani infeksi saluran kemih saat hamil adalah dengan memanfaatkan antibiotik. Tentu, pemanfaatannya didasarkan pada jenis bakterinya. Jika tidak, maka hasilnya tidak akan optimal.

Apakah Tidak Berbahaya Menggunakan Antibiotik?

Bagi ibu hamil, kenyataan mengenai obat-obatan yang diminum bisa membuat masalah baru. Contohnya adalah pada janin ibu sendiri. Makanya, tidak heran jika pertanyaan mengenai bahaya tidaknya antibiotik selalu dilontarkan.

Perlu dipahami jika tidak semua antibiotik berbahaya bila dikonsumsi ibu hamil. Ini menjadi kabar gembira bagi ibu yang ingin menuntaskan masalah bakteri penyebab penyakit. Tetapi, ibu membutuhkan bantuan resep dokter.

Antibiotik pada ibu hamil terkadang sangat diperlukan. Mengingat jika bakteri sendiri bisa meluas. Akibatnya, janin dalam kandungan akan bermasalah. Di sini, ibu tidak boleh gegabah dengan memilih sendiri jenis pengobatannya. Setidaknya, ibu perlu memeriksakan kondisi kesehatan. Yaitu datang dan bertanya langsung pada pakar kesehatan kandungan.

Pihak dokter akan meminta ibu untuk uji laboratorium. Gunanya adalah untuk memastikan jenis bakteri apa yang membuat masalah tersebut. Jika didapatkan penyebabnya, dokter akan memberikan resepnya.

Normalnya, ibu akan diberikan antibiotik tertentu. Di sini, perhatikan tentang bagaimana aturan pemakaiannya. Biasanya, masalah infeksi ringan pada saluran kencing memerlukan obat dengan kadar ringan, dan perlu dimanfaatkan selama satu minggu.

Sementara sisanya, biasanya dokter akan menyarankan untuk menggunakan obat lain. Ibu bisa membelinya sendiri. Yang terpenting, ibu sudah mendapatkan ijin penggunaan dari dokter supaya janin di dalam kandungan tidak terpengaruh dengan adanya obat tersebut.

Kesimpulannya, antibiotik akan sangat bermanfaat bila diberikan sesuai dosisnya. Terutama untuk menangani sistitis. Jadi, sudahkah ibu datang ke dokter untuk meminta saran obat tentang penyakit hamil tersebut?