konsep tumbuh kembang anak
Sumber: Youtube

Konsep Tumbuh Kembang Anak

Baruterus.com –  Pada frasa “tumbuh kembang anak” terdapat dua istilah berbeda yaitu tumbuh/pertumbuhan dan kembang/perkembangan.Meskipun keduanya berjalan secara berkesinambungan dan saling terkait, keduanya memiliki pengertian yang berbeda.

Pertumbuhan anak adalah bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh anak baik sebagian ataupun keseluruhan. Besar pertumbuhan anak dapat diukur dengan satuan panjang dan berat.

Sedangkan perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks. Perkembangan menyangkut kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa, serta sosialisasi dan kemandirian.

Tumbuh kembang manusia di masa kanak-kanak berjalan dengan pesat, sehingga sering disebut sebagai periode golden age. Kejadian-kejadian yang dialami oleh anak pada masa-masa ini tersimpan di alam bawah sadar dan memengaruhi mereka ketika beranjak dewasa. Lalu bagaimana jika yang dialami anak pada masa itu adalah kekerasan?

Memahami Kekerasan terhadap Anak

Menurut UU nomor 20 tahun 2003 tentang Perlindungan Anak, ada beberapa jenis kekerasan terhadap anak yaitu: penelantaran, kekerasan fisik, kekerasan seksual, kekerasan emosional, dan kekerasan ekonomi (eksploitasi komersial).

Kekerasan-kekerasan dalam bentuk apapun yang dialami pada masa tumbuh kembang anak akan meninggalkan dampak-dampak negatif. Berikut adalah beberapa contoh dampak yang mungkin akan dialami oleh anak-anak yang menjadi korban kekerasan.

  1. Membentuk Mental sebagai Korban

Anak-anak yang mengalami kekerasan sejak kecil berkemungkinan untuk tumbuh dengan mental sebagai korban yang lemah dan biasa teraniaya. Dengan pola pikir seperti ini, akan sulit bagi mereka untuk melepaskan diri dari siklus kekerasan yang mungkin ditemui saat beranjak dewasa.

  1. Kepercayaan Diriyang Rendah

Anak yang sering dihukum dengan kekerasan ketika melakukan kesalahan seringkali memiliki trauma yang terbawa hingga dewasa. Karena takut salah dan kembali menerima kekerasan, mereka akhirnya memilih untuk tidak melakukan apa-apa. Hal ini menyebabkan perkembangan kemampuan mereka menjadi terhambat.

  1. Sulit Memercayai Orang Lain

Karena interaksinya dengan orang dewasa diciderai dengan adanya tindak kekerasan, kepercayaannya pada orang lain bisa terkikis sedikit demi sedikit. Ia akan menganggap bahwa tidak ada orang lain yang bisa diandalkan untuk memberikannya perlindungan.

  1. Bersikap Agresif

Dalam konsep tumbuh kembang balita, diketahui bahwa anak adalah peniru yang handal. Ketika ia mengalami atau menyaksikan kekerasan sehari-hari, otaknya akan merekam itu di dalam memori bawah sadar. Ingatan itu bisa menjadi penyebab timbulnya sikap agresif ketika ia beranjak dewasa.

  1. Gangguan kesehatan dan pertumbuhan

Anak yang mengalami kekerasan secara berkepanjangan memiliki risiko terkena gangguan kesehatan berupa gangguan jantung, tekanan darah tinggi, dan lain-lain. Selain itu mereka juga mungkin akan mengalami ketidakseimbangan kemampuan sosialisasi, emosional dan kognitif.

  1. Luka, Cacat Fisik hingga Kematian

Selain dampak-dampak trauma psikis, kekerasan pada anak juga bisa menimbulkan dampak fisik. Dampak fisik itu bisa berupa memar, bengkak, keseleo, patah tulang, luka bakar, perdarahan dalam, dan lain-lain. Ada juga luka-luka yang tidak dapat diamati langsung dari luar.

Korban kekerasan mempunyai kecenderungan untuk menyembunyikan penganiayaan yang mereka alami. Biasanya korban kekerasan was-was jika pelaku mengetahui bahwa ia telah bercerita pada orang lain, kekerasan yang terjadi malah akan menjadi lebih buruk. Kekerasan fisik yang berlangsung dalam waktu lama bisa menyebabkan anak mengalami cacat fisik atau bahkan resiko kematian.

Setelah memahami konsep tumbuh kembang anak dan dampak yang bisa ditimbulkan tindak kekerasan pada anak, orang tua harus lebih waspada dalam memerhatikan anak-anaknya. Selain memastikan bahwa orang tua tidak melakukan tindakan kekerasan pada anak, pastikan juga anak tidak mendapatkan perlakuan yang mengandung unsur kekerasan dari orang lain di lingkungannya.

Interaksi yang kondusif dan penuh cinta dengan orang dewasa adalah hal penting yang diperlukan untuk menunjang tumbuh kembang anak menjadi manusia dengan kualitas terbaik secara fisik maupun psikis.