Alergi Balita
Source; Healthline

Baruterus.com – Alergi pada balita atau orang dewasa merupakan respon berlebihan yang dikeluarkan oleh tubuh terhadap suatu zat asing  tertentu (alergen), misalnya makanan, obat, atau bahan kimia, yang mengalami kontak langsung dengan tubuh. Dalam keadaan normal, tubuh manusia dapat melawan bakteri atau virus yang menyerang. Namun, sistem kekebalan tubuh justru tidak bisa melawan kedatangan zat yang tidak berbahaya seperti debu atau jamur.   

Reaksi yang dikeluarkan oleh tubuh sebagai indikasi atau gejala alergi pada balita ini bermacam-macam dari berbagai jenis yang berbeda. Dari rekasi yang terbilang ringan sampai reaksi berat yang berakibat fatal bila tidak segera ditangani dengan bantuan medis, seperti syok anafilaktik yang mengancam nyawa.   

Sekitar 20% anak-anak di bawah 10 tahun mengalami alergi. Umumnya alergi pada balita adalah alergi terhadap makanan seperti susu sapi, telur, ikan, kacang, serbuk sari, debu, jamur, racun serangga, atau obat tertentu. Beberapa anak bahkan mengalami alergi terhadap bahan pakaian. Seiring bertambah usia, biasanya alergi menghilang, namun ada juga yang berkembang menjadi penyakit atau kondisi lainnya   

Berikut ini beberapa reaksi alergi yang sering terjadi pada balita :

  1. Asma Bronchiale

Merupkan sindrom klinis akibat penyempitan saluran pernafasan bawah (bronchus dan alveolus paru) yang bersifat reversibel akibat masuknya alergen ke saluran nafas. Biasanya karena adanya riwayat asma dalam keluarga.

  1. Urtikaria

Reaksi alergi pada kulit yang ditandai dengan bentuk bentol berwarna merah. Biasanya disertai rasa gatal, ukuran bentol bervariasi. Urtikaria tersebar di berbagai empat di kulit, yang sulit diketahui penyebab pastinya. Sebaiknya dilakukan tes alergi kulit supaya dapat diketahui jenis alergen pencetus. Urtikaria juga dikenal dengan sebutan biduran atau kaligata.

  1. Angioderma

Mirip dengan urtikaria, namun angioderma diikuti dengan pembengkakan pada bercak merah di kulit. Angioderma merupakan bilur besar yang melibatkan lapisan kulit yang lebih dalam. Secara umum tidak berbahaya, tapi beberapa kasus ditemukan dapat menyebabkan tenggorokan atau lidah menghalangi pernafasan dan menyebabkan kehilangan kesadaran yang mengancam nyawa.

  1. Rhinitis Alergika

Reaksi alergi yang ditandai dengan bersin-bersin, biasanya terjadi di pagi hari atau saat penderita terpapar alergi. Reaksi ini melibatkan hidung, mata, telinga tengah, rongga sinus, faring, tuba, dan eustachi. Penderita akan mengalami gangguan pernafasan ringan seperti hidung buntu.

  1. Dermatitis Atopik

Reaksi alergi yang paling umum pada balita. Gejala reaksi terjadi pada kulit lapisan atas yang bersifat kronis atau menahun. Keluhan yang sering dirasakan adalah kulit terasa gatal dan kering. Reaksi alergi ini sering kambuh kembali walau sudah pernah diobati.

  1. Anafilaktik

Jenis reaksi alergi berat yang dapat mengancam nyawa penderita. Gejala yang ditimbulkan berupa gatal, pembengkakan di bagian wajah lengan dan kaki, dan gelisah hingga berujung kematian (Shock Anafilaktik). Alergen yang menyebabkan adalah kacang-kacangan, kerang, udang, lobster, ikan, telur dan susu. Reaksi ini mengancam saluran pernafasan, kardiovaskuler dan gastrointestinal

  1. Alergi Obat-obatan atau Zat Kimia

Reaksi yang timbul akibat penderita terpapar obat atau bahan kimia walaupun dalam dosis yang rendah. Reaksi alergi ini bisa saja muncul secara tiba-tiba, misalnya balita Ibu sudah pernah mengonsumsi parasetamol sebelumnya dan tidak terjadi apa-apa, tapi suatu ketika dia mengalami gatal-gatal di seluruh tubuhnya. Gejala umum yang terjadi adalah bercak kemerahan pada kulit yang gatal, diare, bersin-bersin dan sesak nafas. Beberapa juga mengalami gangguan pada jantung dan tekanan darah rendah. Selain karena jenis obat, cara atau metode pemberian obat juga dapat menimbulkan reaksi alergi.   

 

Bila balita Ibu pernah mengalami salah satu jenis reaksi alergi tersebut, sebaiknya segera melakukan tes alergi. Tujuannya adalah agar Ibu lebih waspada terhadap alergan yang mungkin terpapar pada balita dan juga mengurangi resiko shock yang berujung kematian, khususnya pada kasus alergi makanan.